Degradasi Moral Anak


    Sebagai makhluk sosial, kita tidak hidup sendirian. Kita hidup dengan manusia lain. Oleh karena itu, manusia disebut makhluk sosial, makhluk yang sebagian besar waktunya adalah berinteraksi dengan sesamanya. Lantas, bagaimana manusia saling berinteraksi? Manusia berinteraksi karena  kebutuhan dan motivasi masing-masing, seperti kebutuhan jasmani yakni mengirim sinyal atau pesan agar seseorang mau membantunya dalam pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan sendiri, ataupun sekedar teman bertukar pikiran. Maka oleh sebab itu, lahirlah norma dan moral dalam kehidupan bermasyarakat. 

    Kata Moral berasal dari kata mos (mores) yang bermakna kesusilaan, kelakuan. Moral adalah ajaran tentang hal yang baik dan buruk, yang menyangkut tingkah laku dan perbuatan manusia.

    Seorang pribadi yang taat kepada aturan-aturan, kaidah-kaidah dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakatnya, dianggap sesuai dan bertindak secara moral. Jika sebaliknya yang terjadi maka pribadi itu dianggap tidak bermoral oleh masyarakat tertertu.

    Adapun menurut para ahli, seperti yang dikemukakan oleh Hurlock , moral adalah perilaku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial. Moral sendiri berarti tata cara, kebiasaan, dan adat. Perilaku moral dikendalikan konsep konsep moral atau peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya. Sedangkan menurut kamus psikologi, moral adalah mengacu kepada akhlak yang sesuai dengan peraturan sosial, atau menyangkut hukum atau adat kebiasaan yang mengatur tingkah laku.

    Indonesia memiliki kultur dan kebudayaan yang unik dan sangat beragam. Namun ditengah keberagaman itu ada norma yang terbentuk dari ideologi Pancasila, sehingga menghasilkan keseragaman dalam bermoral. Ironisnya, sejatinya di masa modern ini, moral pada anak justru mengalami degradasi.  Hal ini terlihat dari berberapa contoh kecil, pada zaman dahulu siswa merasa takut dimarahi guru jika tidak mengerjakan PR, namun pada saat ini siswa malah acuh tak acuh dalam mengerjakan PR. Bahkan jika dimarahi guru, tidak sedikit dari siswa yang malah melawan. Realita ini sangat bertentangan dengan budaya masyarakat Indonesia dalam menghormati orang yang lebih tua.

    Hal ini tentu saja tidak dapat disepelekan, karena sangat mempengaruhi masa depan generasi bangsa ini. Jika moral penerus bangsa ini sudah hancur sejak dini, bagaimana dengan masa depan bangsa dikemudian hari? Dari hal yang remeh ini, degradasi moral juga bisa memicu meningkatnya tindak kriminal di Indonesia. 

    Menurut, sebuah proposal penelitian di Universitas Andalas,  kriminalitas atau tindak kejahatan adalah suatu tindakan yang melanggar hukum, undangundang, norma, dan nilai yang berlaku dalam masyarakat. Tindak kejahatan tersebut dapat merugikan dan mengancam keselamatan serta jiwa seseorang. Kejahatan sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat dan banyak faktor yang dapat mempengaruhi seseorang untuk melakukan suatu tindak kejahatan tersebut. Dewasa ini tindak kejahatan seperti hal yang sudah biasa di masyarakat, ketika seseorang tidak perlu lagi berpikir panjang untuk melakukan tindak kejahatan dan para pelaku tidak lagi memikirkan konsekuensi yang terjadi dari perbuatanya tersebut, sehingga para pelaku juga tak segan-segan untuk melukai bahkan membunuh para korbannya.

    Salah satu faktor terjadinya kriminalitas ialah kurang pendidikan moral sejak dini. Akibat dari kurangnya pendidikan moral, anak menjadi kurang empati dan bertindak melanggar norma-norma yang ada. Dari kurangnya empati, maka akan berdampak fatal, yakni orang itu bisa saja melanggar hak-hak orang lain tanpa rasa bersalah sama sekali.

    Lantas bagaimana peran orang dewasa, khususnya orangtua dan tenaga pengajar dalam fenomena ini? Sebagai manusia yang lebih lama mengarungi hidup dan lebih berpengalaman, seharus lebih berbenah diri lebih mencontohkan bagaimana beretika yang sesuai dengan kebudayaan dan ideologi  yang ada di Indonesia. Sebagai orang dewasa, maka langkah kecil yang harus dilakukan adalah menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pendidikan moral pada anak. Setelah itu mulailah dari hal-hal kecil, seperti mengajarkan sopan santun dan memancing anak agar memperdalam empati.


Luthfiani Nur Azizah 

Peneliti di Institute of Guide Light

luthfiani99nurazizah@gmail.com/

Ig : luthfianinuraz

Tidak ada komentar

Posting Komentar

© all rights reserved
made with by templateszoo