Seminar Internasional! Peluang dan Tantangan Dakwah di USA

 

    Bandung, Insight-Cybermedia.com - UIN Sunan Gunung Djati merupakan kampus prestisius di Indonesia, karena UIN Bandung secara berturut-turut mendapatkan predikat nomor satu sebagai PTKIN terbaik se-Indonesia. Karenanya, setiap fakultas dan jurusan di UIN Bandung terakreditasi A kecuali jurusan yang belum lama ini dibuka untuk mahasiswa. 

    Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi merupakan salah satu prodi unggulan di UIN Bandung. Prodi unggulan ini menunjukkan superiornya dengan mengadakan seminar internasional dengan judul “On Dakwah Studies and Research in The USA” dengan pembicara luar biasa, yaitu Dr. Mohamad Shamsi Ali, Lc, M.A sebagai Imam atau Ustaz di Masjid Besar Kota New York serta Prof. Mohammad Ali, Ph. D sebagai Dosen di University of California, Riverside. Seminar ini berlansung pada hari Kamis, 8 Juni 2023 di Aula Fakultas Dakwah dan Komunikasi secara luring dan daring. (9/6/2023) 

    “Ikut seminar ini menjadikan kita visioner. Iya maksudnya adalah ketika kita telah mempelajari dari pengalaman langsung tentang bagaimana secara akademisi dan praktisi mengenai perjuangan dakwah di USA menjadika kita punya sampel atau contoh untuk bisa menerapkannya juga ketika kita hendak melakukan dakwah, mungkin ada beberapa hal yang berbeda dengan kita di Indonesia. Tapi jika kita berdakwah dengan kondisi minoritas seperti di USA, pengalaman yang tadi dijelaskan bisa kita terapkan juga,” ujar Margana sebagai mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam yang mengikuti kegiatan tersebut.

    Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Dr. H. Aang Ridwan, M. Ag lebih lanjut menuturkan harapan setelah mengikuti seminar internasional tersebut, beliau berharap mahasiswa dapat menambah khazanah keilmuan dalam dakwah serta menjadikannya pemantik atau semangat dalam berdakwah di masa depan. 

    Seminar internasional tersebut dibagi menjadi dua sesi, yaitu pertam dipersilahkan kepada Mohamad Shamsi Ali untuk menjadi pemateri pertama, beliau menerangkan materi tentang aktivitas dakwah yang beliau lakukan di Amerika Serikat.

    Pertama, faktor amerikanya. Amerika menjunjung tinggi konstitusi yang dianutnya, seperti kebebasan bagi masyarakatnya. Kedua, orang Amerika orang-orangnya terbuka dan mempunyai rasa keingintahuan yang tinggi, didukung dengan pengetahuan-pengetahuan yang terbuka, ternyata ditemukan adanya kekosongan batin. Ketiga, Islamnya itu sendiri. Islam itu cahaya, namun terkadang tersembunyi karena orang islamnya sendiri. Demikian beliau menyampaikan peluang dakwah di Amerika.

    “Saya ingin berdakwah di Amerika, namun apa daya saya, karena saya harus juga fasih berbahasa inggris, jika ingin berdakwah disana. Pemaparan peluang dakwah yang beliau sampaikan cukup membuat kita merasa dakwah di Amerika itu tidak sesulit yang kita kira yah,” ujar Syarif salah satu mahasiswa KPI UIN Bandung. 

    Selanjutnya tantangan dakwah. Pertama, media yang menumbuhkan phobia terhadap islam. Kedua,    agama islam menjadi objek yang sensitif dalam perpolitikan. Amerika orang yang paling vulgar terhadap penolakan islam, karenanya Islam menjadi objek sensitif dalam dunia politik. Ketiga, karena image building persepsion. Keempat, faktor muslimnya itu sendiri, krisis indentitas. Kelima, faktor da'i. Kekurangannya pada saat penguasaan lapangan, Komunikasi sangat kurang terutama dalam Bahasa. Keenam, faktor umat Islam. Keadaan dunia islam menjadi tantangan, karena tidak bisa membuktikan Islam itu ialah solusi dari segala permasalahan.

    “Mungkin jujur aja ya, sebagai minoritas di negara orang. Lebih banyak tantangan sih dibandingkan peluang dakwahnya. Kalau saya sendiri mending jangan dulu dakwah kesana deh, gak punya kemampuan soalnya hehehe,” ungkap Keukeu mahasiswa KPI UIN Bandung. 

    Setelah itu, pemateri kedua yaitu Mohammad Ali menuturkan materi lebih kepada research atau di ruang akademisi. Beliau menekankan pentingnya sebelum berdakwah itu dilengkapi data-data yang mumpuni. 

    Pertama, mengapa belajar dakwah. Biasanya disertai tiga alasan. Alasan personal ingin mengkaji tentng dakwah, para intelektual ingin mengembangkan pengetahuan dan ada alasan akhlak dan sumbangsih perkembangan dakwah di Amerika Serikat. Kedua, untuk apa. Persfektif akademis, sebagai pemahaman terhadap seluk beluk dakwah dan dengan dasar pemahaman cukup memiliki modal yang baik untuk berdakwah. Ingedment supaya kita bisa beradaptasi dan bersosial dengan baik, secara aktif bukan secara pasif.

    Ketiga, apa yang kita kaji atau research. Paith and practice. bisa saja yang di kaji adalah ceramah, tabligh, ataupun khutbah. Text and contecx, teks-teks yang terkait dengan islam di Amerika serta konteksnya dimanapun. Unity and diversity (Kesatuan dan kesamaan). Simplity dan complexcity. Persistence and change. apa yang berubah dan apa yang tidak berubah dalam kehidupan umat muslim. Keempat, bagaimana kita mengkaji. Mindfull dan shympatetic, rasa keingin tahunan, bagaimana memahami dan menerima. Apapun yang kita kaji harus menunjukkan rasa simpatik ada unsur ketertarikan. Pendekatan yang kuat dan khusus dan menjadi pendekatan-pendekatan gabungan dalam proses mengkaji fenomena dakwah.

    “Harapannya kita bakal bisa ngembangin ranah utama KPI sih, yaitu khitobah atau public speaking, kitabah atau writing dan I’lam atau broadcasting. Tadi alhamdulillah juga sudah disebutkan banyak banget sumber yang bisa dipake buat memenuhi tiga ranah tadi, kalo dari aku sih WOW! Iya luar biasa banyak banget datanya, tapi juga pusing sih kalo saya,” ungkap Baihaqi Prama sebagai mahasiswa KPI UIN Bandung.

Indra Margana

marganaausi@gmail.com

@marganaid

Komunikasi Penyiaran Islam

UIN Sunan Gunung Djati Bandung


Tidak ada komentar

Posting Komentar

© all rights reserved
made with by templateszoo